Artikel kali ini disadur dari video singkat ceramahnya Syaikh Utsaimin di:
http://www.youtube.com/watch?v=UfcXKaYxidw
penyakit yang menimpa manusia ada dua macam:
1. penyakit bathin (hati) dan maknawi
2. penyakit jasmani dan dapat diindra
penyakit pertama lebih utama untuk diperhatikan karena dapat mengakibatkan kebinasaan abadi atau keselamatan abadi.
penyakit hati memiliki dua cabang:
1. jahl (kebodohan)-->sesungguhnya manusia mencintai kebaikan dan berusaha kepadanya akan tetapi mereka memiliki kejahilan. maka terjadilah karena sebab itu kesalahan yang besar. sehingga berkata sufyan ibnu Uyainah Rahimahullah :
"barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah kita maka padanya ada keserupaan dengan nasoro, karena nasoro menginginkan kebaikan akan tetapi sesat darinya, sebagaimana firman Allah Subhanallahu Wata'ala : dan mereka mengada-adakan rabbaniyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang kami wajibkan hanyala) mencari keridhaan Allah(Q.S Alhadid 27)".
Sufyan ibnu Uyainah juga berkata :"barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah kita maka padanya ada keserupaan dengan yahudi.Karena yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi menyelisihinya."
diatas kedua hal ini berputar seluruh penyakit hati. karena dari itu kita tahu keharusan berilmu dan harusnya tunduk serta penerimaan terhadap syariat. jika tidak terjadilah kebinasaan. kebinasaan ini tidak seperti kebinasaan terhadap badan, karena kebinasaan badan adalah kembali ke keadaan semula. "dari tanah itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu yang lain (Q.S Thoha 55)"
tetapi binasanya hati bermakna hilangnya kehidupan. dimana manusia tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaannya di dunia, kerugian dunia. serta dia tidak bisa mengambil kebaikan di akhirat. apakah kehidupan yang abadi? pertanyaan... jawablah...kehidupan akhirat. karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman : "dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya (Q.S Ankabut 64)"
dan berkata Allah Subhanahu Wata'ala : "pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tiada berguna lagi kesadaran itu. Dia berkata "alangkah baiknya sekiranya aku dulu mengerjakan kebaikan untuk hidupku ini" (Q.S Al Fajr 23:24)"
http://www.youtube.com/watch?v=UfcXKaYxidw
penyakit yang menimpa manusia ada dua macam:
1. penyakit bathin (hati) dan maknawi
2. penyakit jasmani dan dapat diindra
penyakit pertama lebih utama untuk diperhatikan karena dapat mengakibatkan kebinasaan abadi atau keselamatan abadi.
penyakit hati memiliki dua cabang:
1. jahl (kebodohan)-->sesungguhnya manusia mencintai kebaikan dan berusaha kepadanya akan tetapi mereka memiliki kejahilan. maka terjadilah karena sebab itu kesalahan yang besar. sehingga berkata sufyan ibnu Uyainah Rahimahullah :
"barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah kita maka padanya ada keserupaan dengan nasoro, karena nasoro menginginkan kebaikan akan tetapi sesat darinya, sebagaimana firman Allah Subhanallahu Wata'ala : dan mereka mengada-adakan rabbaniyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang kami wajibkan hanyala) mencari keridhaan Allah(Q.S Alhadid 27)".
Sufyan ibnu Uyainah juga berkata :"barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah kita maka padanya ada keserupaan dengan yahudi.Karena yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi menyelisihinya."
diatas kedua hal ini berputar seluruh penyakit hati. karena dari itu kita tahu keharusan berilmu dan harusnya tunduk serta penerimaan terhadap syariat. jika tidak terjadilah kebinasaan. kebinasaan ini tidak seperti kebinasaan terhadap badan, karena kebinasaan badan adalah kembali ke keadaan semula. "dari tanah itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu yang lain (Q.S Thoha 55)"
tetapi binasanya hati bermakna hilangnya kehidupan. dimana manusia tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaannya di dunia, kerugian dunia. serta dia tidak bisa mengambil kebaikan di akhirat. apakah kehidupan yang abadi? pertanyaan... jawablah...kehidupan akhirat. karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman : "dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya (Q.S Ankabut 64)"
dan berkata Allah Subhanahu Wata'ala : "pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tiada berguna lagi kesadaran itu. Dia berkata "alangkah baiknya sekiranya aku dulu mengerjakan kebaikan untuk hidupku ini" (Q.S Al Fajr 23:24)"